Hamparan bunga berwarna keunguan memanjakan mata begitu memasuki
Grasse, kota pegunungan yang berketinggian antara 80—1.061 m di atas
permukaan laut (dpl). Bunga-bunga itu muncul dari ribuan baris tanaman
semak berukuran lebih tinggi daripada lutut orang Asia atau setinggi
kira-kira 60 cm dari permukaan tanah. Bunganya meliuk-liuk ditiup angin
musim panas 2011 sehingga menguarkan aroma harum nan lembut ke berbagai
penjuru.
Aroma yang
bertahan lama bahkan hingga bunga menjadi kering itu yang
membuat pekebun di Grasse menanam lavender. Mereka membudidayakan
tanaman anggota famili Lamiaceae alias mint-mintan itu—bersama beberapa
jenis bunga lain—sebagai bahan baku industri parfum yang bertebaran di
Grasse. Di kota yang merupakan bagian dari pegunungan Mediterania itu
parfum-parfum berkualitas seperti chanel no. 5, shalimar, dan fragonard
diproduksi sehingga Grasse mendapat julukan Kota Parfum Dunia.
Obat penat
Lavender Lavandula angustifolia memang tumbuh baik di daerah
pegunungan dengan tanah berbatu dan mendapat sinar matahari penuh
seperti di Grasse dan daerah-daerah di sekitarnya. Sekali menanam,
pekebun bisa menuai bunganya setiap musim panas yaitu pada Juli—Agustus
selama 10 tahun berturut-turut. Setelah itu tanaman harus diremajakan.
Selain di Perancis, tanaman semak dengan daun kecil berwarna hijau
keabu-abuan itu tumbuh di Spanyol, Inggris, Australia, dan Amerika
Serikat.
Pekebun memanen bunga dan menjualnya ke pengepul yang memasok bunga
ke pabrik penyulingan minyak asiri. Di pabrik penyulingan itulah bunga
yang sejak zaman Romawi Kuno dipakai sebagai campuran dalam air mandi
karena menebarkan aroma harum itu disuling untuk diambil minyaknya.
Minyak lavender kemudian dijual ke pabrik parfum antara lain Molinard
sebagai bahan baku minyak wangi. Lavare—dalam bahasa Latin berarti
membasuh atau mandi, red—juga dipakai dalam pembuatan sabun. Wangi
lavender dipercaya dapat membuat tubuh menjadi rileks sehingga membantu
meredakan keletihan.
Sebagian kecil hasil panen dijual dalam kantong-kantong yang diikat
ujungnya sehingga berbentuk seperti bantal sebagai bunga kering alias
potpourri. Potpourri kerap dipajang di rumah-rumah penduduk kota seluas
44,5 km persegi itu sebagai pengharum ruangan. Ada juga yang
memanfaatkan kuncup bunga dan pucuk daun lavender sebagai tambahan dalam
salad atau diseduh dan diminum layaknya menikmati teh Camelia sinensis.
Wisata wewangian
Grasse memulai sejarah sebagai kota parfum dan wangi-wangian pada
abad ke-16. Ketika itu bermunculan para pembuat parfum tradisional.
Salah satu yang tertua dan sangat terkenal adalah seorang wanita bernama
Tapputi asal Masepotamia, sekarang Republik Irak. Barulah pada abad
ke-19 industri parfum yang memproduksi secara skala besar berdiri.
Pabrik-pabrik besar itu membuat parfum asal kota berjarak 500 km dari
Paris itu mendunia. Sebanyak 60% produksi parfum tercipta di Grasse.
Salah satu yang sohor adalah imperial majesty. Wewangian dari
produsen parfum Clive Cristian itu dikenal sebagai parfum termahal
dengan harga hingga jutaan rupiah per botol. Selain karena terdiri dari
berbagai campuran bunga dan herbal seperti melati, kardamon, dan jeruk
citrus, imperial majesty mahal karena dikemas dalam botol berlapis emas
di bagian leher dan berlian di tutupnya.
Untuk memenuhi kebutuhan industri parfum, penanaman lavender dan
bunga-bunga lain bahan baku parfum meluas ke beberapa daerah terdekat
antara lain di sekitar Aux de Provence. Sekarang kegiatan budidayanya
sudah sangat modern dengan melibatkan mesin antara lain untuk pemanenan
bunga. Namun, masih ada juga petani yang memanen lavender secara manual
tradisional dengan bantuan buruh panen. Total jenderal luas penanaman
lavender sebanyak 15.000 ha. Hasil panen dari kebun-kebun itu diolah di
120 pabrik penyulingan.
Industri parfum beserta kebun-kebun bunga bahan baku parfum membuat
Grasse menjadi salah satu daerah kunjungan wisata favorit di Perancis.
Apalagi kotanya memang indah dengan bangunan tua dan jalan yang bersih
dan terawat. Di kota berjarak 30 menit berkendaraan dari Nice itu para
turis bisa berkunjung ke kebun-kebun bunga, masuk ke tempat penyulingan,
hingga pabrik parfum. Oleh-oleh berupa minyak wangi, sabun, potpourri,
dan wewangian lain mudah ditemukan dijual di toko-toko di pusat kota.
Jika lelah mendera, menikmati aroma lavender sembari berendam layaknya
orang Romawi Kuno bolehlah dicoba. (Sheri Dalimunthe, penggemar tanaman hias dan
jalan-jalan, sekarang tinggal di Belanda)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar